Pages

Botol Plastik


Bumi yang kita tinggali saat ini seperti hakim tua yang kelelahan setelah menghabiskan minggu-minggu terakhirnya untuk meladeni sidang-sidang mulai dari kelas teri hingga kelas paus. Bumi menghakimi pertikaian yang terjadi dimana-mana. Bumi menghakimi deviasi moral dari manusia-manusia penghuninya. Terlebih lagi, bumi yang sudah menua, tepat dianalogikan dengan hakim yang lanjut usia. Ia perlu mengkonsultasikan kesehatannya yang berharga secara rutin, menjaminkan kelangsungan hidupnya, walau ia tahu bahwa sebagian dokter yang ia datangi lebih sering menggaruk kantongnya dengan selembar kertas resep dengan nominal menjulang. Manusia-manusia yang menghembuskan napasnya di bawah atmosfer bumi selayaknya kerabat sang hakim tadi. Ada yang peduli, ada yang hanya setengah peduli, ada pula yang sampai mati hanya memikirkan dirinya sendiri. Ah, bicara tentang manusia dan bumi, sepertinya bapak yang sedari tadi duduk di sebelahku ini tergolong manusia yang peduli, setidaknya setengah peduli.
“Bumi Menangis Akibat Pemanasan Global”, demikian judul sebuah artikel koran lokal yang sedang dibacanya. Sedikit dramatis memang, namun apa boleh buat, drama semacam itu justru merupakan realitas zaman ini. Zaman yang terdistorsi, istilah yang digunakan oleh pemuda tanggung bergelar sarjana lulusan fakultas ekonomi dari universitas ternama yang tanpa sengaja ditemui oleh bapak ini di warung kecil depan halte tempat si bapak sedang duduk. Pemuda tanggung begitu bangga mengucapkan kalimat yang seakan mampu mewakili intelektualitas empat tahun yang dengan susah payah diraihnya. Walau sudah dua minggu pemuda tanggung makan siang dengan menu termurah di warung depan halte. Walau sudah dua minggu map warna biru dalam tasnya tidak diterima oleh satu perusahaan pun yang ia datangi. Ketika si bapak meninggalkan pemuda tanggung di warung, aku ikut bersamanya. Seorang ibu yang baru saja menjemput anak perempuannya telah duduk terlebih dahulu di bangku halte yang penuh dengan coretan yang mereka sebut gravity. Aku menyimak pembicaraan ringan tentang sampah plastik yang mencemari lingkungan. Aku tidak setuju dengan si bapak yang berkata bahwa manusia tidak perlu plastik. Aku ingin mendebat si bapak.
Siapa bilang manusia tidak perlu plastik? Bahkan manusia-manusia beauty-complex gemar memanipulasi wajah mereka dengan plastik. Plastik hanyalah alat bagi manusia, yang mereka bentuk, kemudian mereka gunakan. Hanya satu hal yang tidak aku mengerti hingga hari ini, dari sekian banyak jenis dan bentuk plastik, mengapa aku berada dalam bentukku sekarang ini, silinder memanjang dengan rongga di dalamnya. Aku botol plastik. Aku adalah botol plastik yang memuat minuman rasa jeruk, dibeli oleh seorang bapak dari warung depan halte dengan harga tiga ribu rupiah, dengan isi yang kini sisa separuh. Dan tentang segala drama yang aku katakan barusan, hanya potongan informasi yang aku intip dan sadap dari segala jenis manusia yang pernah aku temui.
*          *          *
Hari ini masih pagi ketika aku mendapati diriku masih berwujud botol plastik. Lebih tepatnya botol plastik kosong di dalam sebuah karung lusuh beraroma beras apak. Seorang anak kecil berbaju sama lusuh dengan karung tempatku sekarang memungutku dari tong sampah di depan sebuah toko buku, tempatku menghabiskan dua malam terakhirku. Normalnya di kota, botol platik seperti aku tidak menghuni sebuah tong sampah lebih dari satu hari. Namun apa boleh buat, setelah badanku dibuang sembarangan oleh bapak halte yang ternyata tak peduli, ditendang oleh gerombolan anak punk, hingga dipungut dan dipindahkan ke tong sampah oleh seorang ibu guru muda, badanku terselip di bawah buku tua tentang sejarah Indonesia yang dibuang pemilik toko buku karena termakan ngengat. Sepertinya buku jenis itu kalah tenar dibandingkan dengan majalah fashion fashion yang digemari para gadis atau tabloid otomotif yang digandrungi pembaca laki-laki. Anak pemulung ini beruntung karena ketika ia mengangkat buku tua untuk dipulung, ia menemukanku.
Melakukan perjalanan sebagai sebuah botol plastik tidak sesederhana kedengarannya. Walau terkesan familiar dan monoton, pantatku pernah berganti rupa dalam tiga bentuk, bulat, kotak, dan kini menyerupai belimbing. Cairan pengisiku pun bermacam-macam, mulai dari air mineral yang katanya telah dimurnikan hingga air berkarbonasi. Aku pernah mencoba bersahabat dengan suatu cairan pengisiku, minuman bergula dengan aroma campuran mangga dan mint. Formula yang tidak begitu akur sepertinya, molekul sari mangga selalu berdepat dengan perisa mint tentang bagaimana daerah tropis tempat mangga tumbuh lebih indah daripada negara empat musim darimana mint diimport. Setelah menyaksikan pertengkaran mereka yang tiada henti, aku tidak lagi ingin berkawan dengan bangsa cairan.
Dalam pandanganku, manusia adalah spesies yang aneh. Bukan karena mereka memikirkan lebih banyak ide, melainkan karena kreativitas yang mereka tunjukkan dengan memperlakukanku bukan sebagai botol minuman terasa sangat aneh. Aku pernah dilempar ke tengah lapangan hijau luas oleh seorang suporter sepakbola. Aku pernah menjadi saksi percobaan bunuh diri setelah seorang mahasiswa yang mengisi diriku dengan jenis insektisida. Aku bahkan pernah melukai kepala seorang wakil rakyat dalam demo yang diinisiasi oleh ibu-ibu PKK. Aku bosan dengan manusia yang seperti itu, sampai aku dipungut oleh seorang anak pemulung dari tempat sampah di depan sebuah toko buku.
Ketika aku merasa karung beraroma beras apak itu diturunkan dari bahu anak pemulung, aku pikir aku akan segera ditimbang dan ditukar dengan dua lembar ribuan atau lebih sering dengan sebungkus sego kering. Ternyata tidak, setelah meletakkan buku sejarah Indonesia yang lapuk dimakan ngengat di dalam sebuah lemari bambu buatan sendiri, tangan kurus anak pemulung meraihku, mencuci badanku dengan air coklat dari sumur yang nyaris kering kemudian mengeringkan badanku dengan baju yang dikenakannya. Anak pemulung memandangku dengan senyum lebar berbibir kering dan bergigi kekuningan, entah kenapa aku merasa berharga, untuk pertama kalinya. Terlebih lagi ketika anak pemulung memasukkan sebatang pensil dan penghapus ke dalam rongga tubuhku, wajah puas yang diperlihatkan sela anak pemulung mengganti baju lusuh dengan setelan putih merah yang tak kalah lusuh, dan senyum tulus ayah pemulung yang berniat menambah rupiah dengan menjadi kuli pasar. Sebagai botol plastik yang bermartabat, aku sangat yakin untuk mengakhiri takdirku sebagai botol di tangan kurus anak pemulung.
Waktu berlalu, aku masih tinggal di rumah anak pemulung. Di rumah anak pemulung aku tidak pernah melihat ibu pemulung, hanya anak pemulung dan ayah pemulung yang juga mengangkut berkarung-karung beras dan bawang di pasar pada siang terik. Berbulan-bulan aku dibawa pergi ke sekolah dengan pensil yang kian lama kian pendek, kemudian berganti yang baru, demikian berulang-ulang hingga hal yang buruk itu terjadi. Seorang anak berpakaian licin dan selalu menganggu anak pemulung memotong tubuhku dengan cutter pada jam pelajaran prakarya. Aku sedih, aku sakit. Bukan karena sayatan menganga di batang tubuhku, melainkan karena perasaan luka anak pemulung yang jelas tergurat di wajahnya. Aku tidak lagi menemani anak pemulung ke sekolah, namun setidaknya aku masih diizinkan menghuni rumah anak pemulung. Bersama sarung tangan yang kehilangan pasangannya dan pecahan keramik berwarna biru, aku kini hanya menjadi dekorasi lemari bambu buatan sendiri yang telah diganjal dengan pecahan genteng.
Tenang tak selamanya, ketika pagi yang lain aku mendapati diriku terjebak dalam keramaian tak terkendali. Aku tak ingin tahu ada apa, aku hanya ingin menemukan anak pemulung dan bapaknya, yang hingga hari ini tak pernah kutemui lagi. Setelah terbanting, terinjak, dan terguling, aku tahu dari seorang ibu gemuk yang histeris bahwa anak pemulung dan bapaknya menempati lahan ilegal milik pemerintah. Bila memang milik pemerintah, bagaimana mungkin bisa ilegal? Aku hanya botol plastik yang hampir terpotong menjadi dua dengan tingkat kognitif rendah, tidak mampu menyusun silogisme atas urusan manusia yang kami anggap biadab di dunia perbotolan. Aku hanya benda mati yang ingin mati sekali lagi.
*          *          *
Aku tidak mati seperti yang kuinginkan dan masih menjadi botol plastik. Kali ini aku di daur ulang dan berwujud mengkilat tanpa cacat. Pantatku kembali berbentuk bulat, tapi warnaku berubah kecoklatan. Petugas pabrik pendaurulangan berkata bahwa aku terlahir kembali menjadi botol jenis baru yang dipesan khusus oleh seorang kaya. Ketika petugas lain ingin bertanya untuk apa, mandor berperut buncit memperingatkan mereka agar berhenti bercakap. Bersama botol-botol plastik lain yang serupa, kami ditempatkan di dalam kardus-kardus berwarna coklat tanpa diisi cairan untuk diminum seperti sebelumnya.
Aku merasa mengenal bapak itu. Bapak pemilik rumah mewah di kompleks perumahan tempat kami, para botol plastik, diturunkan. Ah, ya! Bapak yang pernah bersamaku di halte. Ia tampak berbeda karena tidak lagi mengenakan kemeja sederhana dan duduk menunggu bus di halte. Ia kini berbau manusia kaya arogan, dengan perhiasan yang menyilaukan mata dan tawa membosankan. Aku tidak suka. Seorang anak muncul, bergelayut pada bapak yang tidak aku suka, merengek minta ponsel keluaran terbaru dengan harga berkepala lima berskala juta pada orang yang dipanggilnya ayah. Anak itu adalah teman sekelas anak pemulung yang pernah memotong badan lamaku. Aku benci.
Aku mencoba menjelaskan di awal, takdir sebagai botol plastik tidak sesederhana kelihatannya. Tapi aku sendiri tidak menyangka bahwa perjalananku akan begitu menyedihkan. Aku, dan botol-botol khusus berwarna coklat lainnya digunakan sebagai dinding rumah. Kami adalah alat dari kampanye pemilihan kepala daerah bertema kepedulian akan lingkungan, tersusun rapi tanpa cela sebagai bagian dari rumah mewah bapak dan anak yang aku benci. Butuh beberapa hari hingga semua botol rampung terpasang dan tinggal menunggu diliput oleh media televisi swasta keesokan harinya.
Hari dimana media berdatangan. Banyak kamera yang meliput berita yang ingin didengar masyarakat, bukan yang perlu didengar oleh masyarakat. Bunyi klakson dan teriakan riuh ramai seperti mengelu-elukan rasa bangga akan kemunafikan. Sementara asisten bapak yang aku benci sibuk dengan instruksi pengusiran massa yang menggeram, mengaum, dan siap menerkam dengan spanduk-spanduk bertuliskan, “GANYANG KORUPTOR”, “KEMBALIKAN UANG RAKYAT”, “TIKUS PERUSAK NEGARA”, dan sebagainya. Aku pernah bilang, aku tidak ingin menjalin pertemanan dengan bangsa cairan. Persahabatan terakhirku adalah dengan anak pemulung. Mungkin hubungan dengan sesama botol dapat dicoba. 
Hai, apa kabar? Sepertinya kita serupa? Apa kalian juga membenci bapak yang kubenci? Apa tikus yang mereka maksud adalah bapak itu? Atau anaknya? Aku letih bertanya karena ternyata botol plastik tidak selalu mendengarkan kata-kata botol lain, mereka hening dan sibuk menjadi botol plastik. Aku jadi benar-benar rindu pada tangan kurus, baju lusuh, dan gigi-gigi kuning itu. Dimana lagi kalian manusia tulus? Aku, botol plastik yang ingin bertanya, ketika kami para botol sudah tidak mau lagi saling mendengarkan, masih adakah manusia yang dapat saling memahami? Ah, aku tak lagi ingin tahu mengapa aku hanya berwujud sebuah botol plastik.
                                                                                             
Untuk dunia yang semakin tua,
untuk Indonesia yang akhir-akhir ini sering berduka.
Denpasar, 23 Maret 2011

RIP My Music [Hello New Year]


Hari kemarin musik saya mati,
saya sedih karena saya pikir saya tidak akan bisa menikmatinya lagi.
Tapi ia meninggalkan sebuah kotak,
dan sepucuk surat dalam amplop putih.
Saya mendapat wasiat dari musik saya yang mati tanggal kemarin.

Seorang teman saya berkata, "Buka saja kotaknya, untuk apa selembar kertas bila kau punya kotak?"
Saya yakin itu bukan cara yang tepat untuk menangani bentuk wasiat.

Teman saya yang lain menasehati saya agar membaca surat itu.
Mudah, hanya enggan melakukannya.
Kalau begitu berikan saja wasiatnya untuk orang lain. Lagi-lagi tidak patut.

Cium! Ciumi amplop itu! Jilat! Gigit! Telan! Karena ketika sesuatu dii sekitarmu mati. itu adalah hal tterakhir yang ia inginkan...

Kawan lama datang, musiknya juga pernah mati.
Katanya saya hanya perlu menunggu.
Saya pun menunggu. Tidak ada yang terjadi.

Saya kalut karena terlalu lama menunggu,
Amplop terobek oleh tangan saya yang kacau.

Tidak mengejutkan dari sebentuk musik yang telah mati, amplop itu berisi nada dan harmoni
Dunia terang.
Kini saya tahu,
yang seharusnya saya lakukan hanyalah mendengarkan.
dengan mendengar saya melihat
dengan mendengar saya mencium
dengan mendengar saya mengecap
setelah mendengar kalut saya berubah lega

setelah mendengar,
dengan mendengar saya tahu bagaimana berbagi.

Denpasar, 1 Januari 2012

[Sebuah resolusi di tahun baru, menjadi pendengar yang lebih baik. Selamat tahun baru 2012 semuanya!]

Analogi-abstraksi

Hidupku adalah arum manis Lapangan Puputan Badung pada hari Sabtu,
manis, berenergi tinggi, membosankan pada suapan ketiga.
Hidupku adalah langit sore Bajra Sandhi Renon,
tenang, jingga, diselingi warna keringat jogging seminggu sekali.
Hidupku adalah buliran pasir Pantai Kuta,
kasar, keras, menyakitkan, setengahnya palsu.

Kau tak pergi kemanapun di akhir minggu,
kau bahkan tak kenal perbedaan siang dan sore,
dan Kuta, kau hanya tertarik pada dada setengah telanjang berbikini.




Bagaimana mungkin kau bisa mengerti bagaimana hidupku?

Candu



"Saya bukan perawan."
"Saya juga."
"Bukan perawan?"
"Bukan. Bukan perjaka."
"Owh...."

Bila ini adalah hari kemarin, saya masih berpikir bahwa belajar akan selalu mendahului kelakuan atau perlakuan. Belajar dahulu, hidup kemudian. Begitu kira-kira. Tapi hari ini adalah hari ini. Setelah mengubah filosofi hidup hanya dalam tempo satu malam, percakapan sevulgar itu menjadi wajar saja. Walau ini Indonesia. Walau ini di siang yang lebih membutakan daripata pagi buta. Walau dia, wanita itu, sama sekali tidak mengenal saya.

Anak Waktu


Satu detik, dua detik
Kita ini adalah anak-anak waktu
bagaimana tidak...