Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan

RIP My Music [Hello New Year]


Hari kemarin musik saya mati,
saya sedih karena saya pikir saya tidak akan bisa menikmatinya lagi.
Tapi ia meninggalkan sebuah kotak,
dan sepucuk surat dalam amplop putih.
Saya mendapat wasiat dari musik saya yang mati tanggal kemarin.

Seorang teman saya berkata, "Buka saja kotaknya, untuk apa selembar kertas bila kau punya kotak?"
Saya yakin itu bukan cara yang tepat untuk menangani bentuk wasiat.

Teman saya yang lain menasehati saya agar membaca surat itu.
Mudah, hanya enggan melakukannya.
Kalau begitu berikan saja wasiatnya untuk orang lain. Lagi-lagi tidak patut.

Cium! Ciumi amplop itu! Jilat! Gigit! Telan! Karena ketika sesuatu dii sekitarmu mati. itu adalah hal tterakhir yang ia inginkan...

Kawan lama datang, musiknya juga pernah mati.
Katanya saya hanya perlu menunggu.
Saya pun menunggu. Tidak ada yang terjadi.

Saya kalut karena terlalu lama menunggu,
Amplop terobek oleh tangan saya yang kacau.

Tidak mengejutkan dari sebentuk musik yang telah mati, amplop itu berisi nada dan harmoni
Dunia terang.
Kini saya tahu,
yang seharusnya saya lakukan hanyalah mendengarkan.
dengan mendengar saya melihat
dengan mendengar saya mencium
dengan mendengar saya mengecap
setelah mendengar kalut saya berubah lega

setelah mendengar,
dengan mendengar saya tahu bagaimana berbagi.

Denpasar, 1 Januari 2012

[Sebuah resolusi di tahun baru, menjadi pendengar yang lebih baik. Selamat tahun baru 2012 semuanya!]

Analogi-abstraksi

Hidupku adalah arum manis Lapangan Puputan Badung pada hari Sabtu,
manis, berenergi tinggi, membosankan pada suapan ketiga.
Hidupku adalah langit sore Bajra Sandhi Renon,
tenang, jingga, diselingi warna keringat jogging seminggu sekali.
Hidupku adalah buliran pasir Pantai Kuta,
kasar, keras, menyakitkan, setengahnya palsu.

Kau tak pergi kemanapun di akhir minggu,
kau bahkan tak kenal perbedaan siang dan sore,
dan Kuta, kau hanya tertarik pada dada setengah telanjang berbikini.




Bagaimana mungkin kau bisa mengerti bagaimana hidupku?

Dari Pandangan Mata


Burung kecil itu hinggap
di pucuk daun kembang sepatu
di pucuk daun yang nyaris layu
sebelah jendela kamarku
Seekor lagi datang
hinggap di pucuk kecoklatan lain

Satu daun gugur
dua daun gugur
Mereka menari-nari

Burung-burung kecil itu
dedaunan yang berguguran
Titik-titik embun
masih membekas di pucuk segar
tapi tidak yang kecoklatan

Pentas berakhir,layar tertutup
satu burung terbang
dua burung terbang
dan
daun-daun masih berguguran

   

Mimpi Dalam Mimpi


Aku ini pemimpi, kau tahu
Impianku tertuang
dalam ceria di hadapmu
Semua imajiku kau tahu
Tapi kau tak serba tahu
Satu senyum yang kututup rapat
Kau tak tahu
Kurekat erat bahkan dekat padamu
Kau tak tahu

Aku
hanya
pemimpi,
memimpikan
satu
yang
kini
serba
tahu
Tentang mimpiku

Kesunyian Waktu


Waktu tak pernah banyak bicara
Aku suka itu
Bila iya, mukaku akan terlalu malu
Karena ia akan katakan
padamu
Puisi-puisi ini milikku
Hingga kau muntahkan habis
Sisa keping mimpiku

Aku ingin banyak bicara
Waktu juga menahanku
Tak kan perlu ada kata
Bila satu pandang mata
menikam, menusuk
dan aku tak ingin kau
mati olehku

Biar antara aku dan waktu
Biar kau pikir entah siapa
Hanya agar kau tahu
Di seberang bilakah terbit surya
ada aku

[Senangnya, ketika kita tahu, pernah ada hati-hati yang menyatu...berkat kata-kata bodoh itu :P]

SIMFONI BURUNG


BIAR BURUNG MELAGU SIMFONI HATI
OLEH MENDUNG
KALA BUWANA TAK BERMENTARI
OLEH RINTIK YANG MENGUAK SENYUM AWAN,
MENGHUJAM BUMI

BILA PADANYA
SUATU PAGI YANG MALAMNYA KUTEMU ARTI
SAAT BAIT-BAIT GAYATRI
MELANTUN, BERADU ALUNAN ROSARIO
DAN BILA BENAR PADANYA
KUDAPAT ARTI,
YANG KEKAL MENGUKIRI
TIAP JENGKAL KULITKU
MAKA BILA ITU SELAMANYA
MAKA ABADI OLEHNYA PADAKU
AKU HANYA AKAN MATI
BILA ANGIN MENGHEMBUSNYA PERGI

[Ada cerita lama yang hanya ingin kuingat sendiri, di sini. Sebuah cerita, sebuah kegagalan pula.]

Sepatu Cokelat


Aku benci ditipu,
lebih benci lagi karena di sebelahku ada yang mati,
padahal aku baru saja mendapat sepatu baru.


***
Sepatu warna cokelat
dengan aroma cokelat.
Kulit mengkilat, warna cokelat.


Sepatu sebelah kanan mengetuk. Tuk, tuk
Sepatu sebelah kiri mengetuk. Tuk, tuk
Dalam hatiku mengutuk. 
Bukan karena sepatu,
melainkan karena ada yang mencoba menipuku.


***
Pagi ini ada yang mati.
Sepatu kanan dan kiri mengetuk lebih cepat. Tuk-tuk-tuk
Tuk-tuk-tuk
Tuk-tuk-tuk
Sebelum sepasang sepatu baruku menarikan tap dance,
aku berhenti mengutuk
sepatu cokelat berhenti mengetuk.
Tapi penipu itu tetap mati.